Showing posts with label Healthy. Show all posts
Showing posts with label Healthy. Show all posts

Flowerain

Moodboard "flowerain"
.
Tapiiii yg mau aku dongengin bukan flower bukan juga rain kaya moodboard yg aku bikin diatas. Melainkan future lifestyle. Jadiii ceritanya moodboard ini merepresentasikan alam.
.
Katanya ngomong future, kok jadi alam sih?? Future kan yg digital2, technologies yg keliatan keren, mahal, kece lallalalala ...TETOT... Entah mengapa artikel2, jurnal, berita, info n data yg aku terima justru mengatakan sebaliknya. Why???
Karenaaaa future lifestyle itu justru kita akan kembali ke unsur2 alam. Bukan berarti kita kembali ke jaman prasejarah homo2an, tapi segala sesuatunya akan mempertimbangkan dampak yg akan terjadi kepada alam.


Klo sekarang masyarakat yg menganut ini masih sangat minoritas, tapi lambat laun pola hidup seperti ini bukan hanya menjadi kebutuhan untuk merawat bumi, melainkan lifestyle/gaya hidup yg lebih sehat. Sehat untuk bumi, lingkungan, dan diri sendiri.
.
Contoh yg paling kerasa dimana bumi kita sudah mulai hancur dimulai dari rusaknya lapisan ozon yg mengakibatkan bergesernya perubahan musim yg kita alami (kaya awal taun kmren sampe pertengahan harusnya udah mulai panas tapi masih aja ujan). Apa penyebabnya si lapisan ozon rusak?? Salah satunya adalah penggunaan kresek. Kresek baru bisa terdegradasi 10-20 tahun, styrofoam lebih dari 50thn. Beberapa penelitian bilang malah dia gak akan hancur alias sampah abadi. .
Udah banyak gerakan2 untuk me recycles limbah2, trus apa yg bisa kita perbuat? Kita bisa mengurangi limbah tersebut. Seperti penggunaan shopping bag, tempat bekal dll. .
Klo mau mulai lifestyle kaya gitu apa aja yg bisa kita mulai pelan2?
- zero waste - sustainable - healthy food
- yoga
- meditations - herbal
- natural skincare (home remedies)
- organic makeup - essential oil
Dllllnyaa, ini keyword yg biass dipake ketika ingin memulai bergaya hidup kembali kealam.
[ Read More ]

Bronchopneumonia

A. PENGERTIAN
Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak Infiltrat (Whalley and Wong, 1996).
Bronchopneumina adalah frekwensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat (Suzanne G. Bare, 1993).
Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing (Sylvia Anderson, 1994).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.

B. ETIOLOGI
1. Bakteri : Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni), Mycobacterium Tuberculosis. 
2. Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.
3. Jamur : Citoplasma Capsulatum, Criptococcus Nepromas, Blastomices Dermatides, Cocedirides Immitis, Aspergillus Sp, Candinda Albicans, Mycoplasma Pneumonia. Aspirasi benda asing.
4. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.



C. PATOFISIOLOGI
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab Bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema ( tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru ) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas. Secara singkat patofisiologi dapat digambarkan pada skema proses. 

D. MANIFESTASI KLINIS
Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas. Penyakit ini umumnya timbul mendadak, suhu meningkat 39-40 OC disertai menggigil, napas sesak dan cepat, batuk-batuk yang non produktif “napas bunyi” pemeriksaan paru saat perkusi redup, saat auskultasi suara napas ronchi basah yang halus dan nyaring.
Batuk pilek yang mungkin berat sampai terjadi insufisiensi pernapasan dimulai dengan infeksi saluran bagian atas, penderita batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia dan kesulitan menelan.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pengambilan sekret secara broncoscopy dan fungsi paru untuk preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau mencari etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar.



2. Secara laboratorik ditemukan leukositosis biasa 15.000 – 40.000 / m dengan pergeseran LED meninggi.
3. Foto thorax bronkopeumoni terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau beberapa lobus, jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.

F. PENATALAKSANAAN
Kemotherapi untuk mycoplasma pneumonia, dapat diberikan Eritromicin 4 X 500 mg sehari atau Tetrasiklin 3 – 4 mg sehari.
Obat-obatan ini meringankan dan mempercepat penyembuhan terutama pada kasus yang berat. Obat-obat penghambat sintesis SNA (Sintosin Antapinosin dan Indoksi Urudin) dan interperon inducer seperti polinosimle, poliudikocid pengobatan simtomatik seperti :
1. Istirahat, umumnya penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat dirumah. 
2. Simptomatik terhadap batuk. 
3. Batuk yang produktif jangan ditekan dengan antitusif 
4. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan broncodilator. 
5. Pemberian oksigen umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk kasus berat. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan penyebab yang mempunyai spektrum sempit.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :
1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
2. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.


3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
4. Infeksi sitemik 
5. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
6. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.


ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan
a) Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam, 
b) Anorexia, sukar menelan, mual dan muntah.
c) Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi.
d) Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan
e) Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernapasan cepat dan dangkal,
gelisah, sianosis 

2. Pemeriksaan fisik
a) Demam, takipnea, sianosis, pernapasan cuping hidung
b) Auskultasi paru ronchi basah
c) Laboratorium leukositosis, LED meningkat atau normal
d) Rontgent dada abnormal (bercak, konsolidasi yang tersebar pada kedua paru)

3. Factor fsikologis / perkembangan memahami tindakan
a) Usia tingkat perkembangan
b) Toleransi / kemampuan memahami tindakan
c) Koping
d) Pengalaman terpisah dari keluarga / orang tua
e) Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya

4. Pengetahuan keluarga / orang tua
a) Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit saluran pernapasan
b) Pengalaman keluarga tentang penyakit saluran pernafasan
c) Kesiapan / kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 
1. Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli.
3. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.
4. Resiko tinggi pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang tidak adekuat.
5. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
6. Kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan klien berhubungan dengan
kurangnya informasi.
7. Cemas anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi

C. INTERVENSI
1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan
sekret.
Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali efektif.
Kriteria Hasil : sekret dapat keluar.
Rencana tindakan :
1. Monitor status respirasi setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan pernapasan dan bunyi napas abnormal.
2. Lakukan suction sesuai indikasi.
3. Beri terapi oksigen setiap 6 jam
4. Ciptakan lingkungan nyaman sehingga pasien dapat tidur dengan tenang
5. Beri posisi yang nyaman bagi pasien
6. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernapasan
7. Lakukan perkusi dada
8. Sediakan sputum untuk kultur / test sensitifitas

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli
Tujuan : pertujaran gas kembali normal.
Kriteria Hasil : Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas
secara optimal dan oksigenisasi jaringan secara adekuat
Rencana tindakan :
1. Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda cianosis
2. Beri posisi fowler sesuai program / semi fowler
3. Beri oksigen sesuai program
4. Monitor AGD
5. Ciprtakan lingkungan yang nyaman
6. Cegah terjadinya kelelahan

3. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
Tujuan : Klien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal
Kriteria Hasil : Tanda dehidrasi tidak ada.
Rencana tindakan :
1. Catat intake dan output cairan (balanc cairan) 
2. Anjurkan ibu untuk tetap memberikan cairan peroral
3. Monitor keseimbangan cairan , membran mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tanda vital.
4. Pertahankan keakuratan tetesan infus
5. Observasi tanda-tanda vital (nadi, suhu, respirasi)

4. Resiko tinggi pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat
Tujuan : Kebuituhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil : Klien dapat mempertahankan/meningkatkan pemasukan
nutrisi.

Rencana tindakan : 
1. Kaji status nutrisi klien
2. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen klien (auskultasi, perkusi, palpasi, dan inspeksi)
3. Timbang BB klien setiap hari.
4. Kaji adanya mual dan muntah
5. Berikan diet sedikit tapi sering 
6. Berikan makanan dalam keadaan hangat
7. kolaborasi dengan tim gizi

5. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.
Kriteria Hasil : Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi dengan proses
infeksi hilang
Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital
2. Berikandan anjurkan keluarga untuk memberikan kompres dengan air pada daerah dahi dan ketiak
3. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan 
4. Berikan minum per oral
5. Ganti pakaian yang basah oleh keringat
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penurun panas.

6. Kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan klien berhubungan
dengan kurangnya informasi
Tujuan : Pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit
anaknya meningkat setelah dilakukan tindakan
keperawatan
Kriteria Hasil : Orang tua klien mengerti tentang penyakit anaknya.


Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya
2. Kaji tingkat pendidikan orang tua klien
3. Bantu orang tua klien untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan dirumah sakit seperti : diet, istirahat dan aktivitas yang sesuai
4. Tekankan perlunya melindungi anak. 
5. Jelaskan pada keluarga klien tentang Pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, pencegahan dan komplikasi dengan memberikan penkes.
6. Beri kesempatan pada orang tua klien untuk bertanya tentang hal yang belum dimengertinya

7. Cemas anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi
Tujuan : Cemas anak hilang
Kriteria Hasil : Klien dapat tenang, cemas hilang, rasa nyaman terpenuhi
setelah dilakukan tindakan keperawatan
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat kecemasan klien
2. Dorong ibu / keluarga klien mensufort anaknya dengan cara ibu selalu didekat klien.
3. Fasilitasi rasa nyaman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya
4. Lakukan kunjungan, kontak dengan klien 
5. Anjurkan keluarga yang lain mengunjungi klien
6. Berikan mainan sesuai kesukaan klien dirumah

D. EVALUASI
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Brochopneumonia adalah :
1. Pertukaran gas normal. 
2. Bersihan jalan napas kembali efektif
3. Intake dan output seimbang
4. Intake nutrisi adekuat
5. Suhu tubuh dalam batas normal
6. Pengetahuan keluarga meningkat
7. Cemas teratasi 

F. TAMBAHAN

Radang paru-paru (bahasa Inggrispneumonia) adalah sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang paru-paru dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi olehbakteriavirusjamur, atau pasilan (parasite). Radang paru-paru dapat juga disebabkan oleh kepedihan zat-zat kimia atau cedera jasmani pada paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau berlebihan minum alkohol.
Gejala yang berhubungan dengan radang paru-paru termasuk batuksakit dadademam, dan kesulitan bernapas. Alat diagnosa termasuk Sinar-X dan pemeriksaan dahak. Perawatan tergantung dari penyebab radang paru-paru; radang paru-paru disebabkan bakteri dirawat dengan antibiotika.
Radang paru-paru adalah penyakit umum, yang terjadi di seluruh kelompok umur, dan merupakan penyebab kematian peringkat atas di antara orang tua dan orang yang sakit menahun. Vaksin untuk mencegah beberapa jenis radang paru-paru bisa diperoleh. Prognosis perseorangan tergantung dari jenis radang paru-paru, perawatan yang cocok, komplikasi lainnya, dan kesehatan orang tersebut. Jenis radang paru-paru dari lokasi infeksi dapat dibagi menjadi:
1. Infeksi ambulant pneumonia atau di luar rumah sakit Penyebab: Streptococcus pneumonia ( 30-60 % )
2. Infeksi nosokomial pneumonia atau pasien memperolehnya dari masa dia tinggal di rumah sakit Penyebab: > 60 % Gram negativ misalnya Pseudomonas dan sisanya gram positiv seperti staphylokokken
Pembagian ini penting karena bakteri yang berasal dari rumah sakit memiliki komplikasi yang lebih tinggi dan memerlukan penangana antibiotika yang lebih selektif dibandingkan dengan yang diterima ambulant atau di luar rumah sakit.
Salah satu kasus radang paru-paru yang mempunyai tingkat kematian tinggi pada saat ini adalah kasus radang paru-paru yang disebabkan oleh Flu burung.
Jenis radang paru-paru dari anatominya:
1. Bronchopneumonia Penyebabnya kebanyakan bakteri. Dibandingkan dengan lobarpneumonia, bronchopneumonia mempunyai lokalisasi penyebarannya yang berbeda sesuai dengan susunan bronkus dan bronkiolus.
2. Lobarpneumonia Penyebabnya yang khas adalah bakteri streptococcus pneumonia. Lokalisasi penyebaran adalah satu lobar dari paru paru Sebutan khas juga disebabkan oleh proses patologisnya yang melalui 6 fase : a Red hepatisation ( hemorhagic atau peradangan dengan pendarahan hari 1 dan 2)
b Gray hepatisation ( fibrin exsudat atau peradangan fibrin ca. hari 2-4 )
c Yellow hepatisation ( abszess atau peradangan dengan diesrtai nanah ca hari 5-6 )
d Lyse ( fase resorpsi atau penyerapan ca hari 9-10 )
e Restitutio ad integrum (ca.14 Tag)
Disebut hepatisation atau hepatisasai karena jaringan paru-paru dalam masa peradangan menyerupai jaringan organ hati dalam histologinya.
3. Interstielle pneumonia
Lokalisasi radang adalah interstitial. Penyebabnya kebanyakan virus ( Virus RS, Adeno-,Parainfluenza-, Influenza A-, CMV-, Campak ), mykoplasma, dll. Sel infiltrasi dapat ditemukan di biopsi paru-paru dan mempunyai khas histologi infiltrat limphosit.
Pneumonia oleh virus pada orang sehat: Infeksi primer Respiratory syncitial virus ( RSV ), Parainfluenzavirus, Influenza, Adenovirus, Infeksi sekundar atau systemik virus campak , cacar / VZV Varizella Zoster Virus , Adenovirus
Pneumonia virus pada Immuninkompetent atau pasien yg kekebalan tubuhnya rendah CMV Cytomegali Virus Herpes Simplex Virus VZV Adenovirus

DAFTAR PUSTAKA

http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/03/askep-bronchopneumonia.html di akses pada 16 Desember 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Pneumonia di akses pada 16 Desember 2012
DR. Nursalam, M.Nurs, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. 
Jakarta : Salemba Medika
A. Aziz Alimul Hidayat. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Edisi 2. 
Jakarta : Salemba Medika







[ Read More ]

Pectus excavatum





Pectus excavatum (a Latin yang berarti istilah dada cekung)  adalah yang paling umum kongenital cacat dinding dada anterior, di mana beberapa tulang iga dan sternum tumbuh tidak normal. Ini menghasilkan menyerah-in atau tampilan cekung dari dada . ini dapat hadir saat lahir atau tidak berkembang sampai pubertas.
Pectus excavatum kadang-kadang dianggap sebagai kosmetik, namun tergantung parahnya, hal ini dapat merusak jantung dan pernapasan fungsi dan menyebabkan nyeri di dada dan punggung.Orang dengan kelainan mungkin pengalaman negatif psikososial efek, dan menghindari kegiatan yang mengekspos dada.Pectus excavatum kadang-kadang disebut sebagai tukang sepatu (cobbler's chest), dada cekung(sunken chest), saluran dada (funnel chest) atau penyok di dada .



·        Gejala

1.      Kondisi penampilan The hallmark cekung sternum,
2.      Jantung dapat dipindahkan dan / atau diputar.
3.      Kemungkinan terdapatMitral valve prolapse,
4.      Base kapasitas paru-paru menurun.

·        Penyebab

Para peneliti saat ini tidak yakin penyebab sebenarnya excavatum pectus tetapi hipotesa cacat genetik. Sekitar 37% dari individu dengan excavatum pectus mempunyai anggota keluarga pertama dengan kondisi derajat. Fisiologis, meningkatkan tekanan di dalam rahim,rakitis dan meningkatkan traksi pada tulang dada karena kelainan dari diafragma telah didalilkan sebagai mekanisme-mekanisme khusus. Pectus excavatum juga merupakan gejala yang relatif umum dari sindrom Marfan . Banyak anak dengan Spinal Muscular Atropi mengembangkan excavatum pectus karena pernapasan diafragma yang umum dengan penyakit ini.

·        Patofisiologi

Karena jantung terletak di belakang tulang dada, dan karena individu dengan excavatum pectus telah terbukti memiliki cacat terlihat dari jantung (terlihat baik pada pencitraan radiologis dan setelah autopsi), telah hipotesis bahwa ada penurunan fungsi sistem kardiovaskular pada individu dengan excavatum pectus. Sementara beberapa studi telah menunjukkan penurunan fungsi kardiovaskular pada excavatum pectus, belum ada konsensus dicapai berdasarkan tes fisiologis baru (seperti ekokardiografi ) dari kehadiran atau derajat penurunan fungsi kardiovaskular pada orang dengan excavatum pectus. Demikian pula, tidak ada konsensus pada tingkat perbaikan fungsional setelah operasi korektif.

·        Diagnosa






Pectus excavatum awalnya dicurigai dari pemeriksaan visual dari dada anterior. Auskultasi dada dapat mengungkapkan pengungsi detak jantung dan prolaps katup. Bisa ada murmur jantung yang terjadi selama sistol disebabkan oleh jarak antara tulang dada dan arteri paru-paru .Lung suara yang biasanya jelas belum berkurang karena kapasitas dasar paru-paru menurun.
Banyak sisik telah dikembangkan untuk menentukan tingkat cacat pada dinding dada. Sebagian besar merupakan varian pada jarak antara tulang dada dan tulang belakang . Satu indeks tersebut adalah rasio Backer yang nilai keparahan cacat yang didasarkan pada rasio antara diameter tubuh vertebral terdekat untuk sambungan xiphosternal dan jarak antara persimpangan xiphosternal dan badan vertebra terdekat. Lebih baru-baru ini indeks Haller telah digunakan berdasarkan CT scan pengukuran. Indeks lebih dari 3,25 sering didefinisikan sebagai berat. Indeks Haller merupakan perbandingan antara jarak horizontal dari bagian dalam tulang rusuk dan jarak terpendek antara tulang dan tulang dada.
Peti x-ray di excavatum pectus dapat menunjukkan opacity di daerah paru kanan yang dapat salah untuk menyusup (seperti yang terlihat dengan pneumonia ). Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa indeks Haller dapat dihitung berdasarkan dada x-ray sebagai lawan dari CT scan pada individu yang tidak mempunyai batasan dalam fungsi mereka.
Pectus excavatum dibedakan dari penyakit lain dengan serangkaian penghapusan tanda dan gejala. Pectus carinatum dikeluarkan oleh pengamatan sederhana dari sternum runtuh daripada tonjolan. Kyphoscoliosis dikeluarkan oleh pencitraan diagnostik tulang belakang, di mana pada excavatum pectus tulang belakang normal biasanya muncul dalam struktur.

ü  Ras

Pectus Excavatum  tampaknya yang paling lazim dalam putih. Sayangnya, tidak ada data spesifik yang tersedia tentang distribusi rasial, namun, observasi klinis menunjukkan bahwa memperlakukan excavatum pectus di Afrika Amerika tidak biasa.

ü  Seks

Rasio laki-laki-wanita adalah 3:1. Meskipun observasi tersebut, tidak ada faktor genetik yang dikenal terkait dengan X atau kromosom Y telah dilaporkan.

ü  Age/ Usia

Kebanyakan kasus yang parah excavatum pectus melihat saat lahir, dengan memburuknya progresif pertumbuhan dan perkembangan anak. Lebih dari 80% dari semua kasus yang diidentifikasi dalam waktu 1-2 tahun pertama kehidupan. Kondisi ini biasanya menjadi lebih jelas saat pubertas, selama waktu yang cepat dan pertumbuhan tulang tulang rawan. Kebanyakan pasien dibawa ke perhatian medis selama belasan tahun karena perubahan signifikan dalam penampilan dada mereka.

·        Pengobatan dan Perbaikan

Pengobatan untuk excavatum pectus dapat melibatkan baik invasif atau non-invasif teknik atau kombinasi keduanya. Sebelum operasi hasil beberapa tes biasanya harus dilakukan. Ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada, CT scan , tes fungsi paru , dan kardiologi ujian (seperti auskultasi dan ECGs ). Setelah CT scan indeks Haller diukur. Pasien Haller dihitung dengan memperoleh rasio dari diameter transversa (jarak horizontal dari bagian dalam tulang rusuk) dan diameter anteroposterior (jarak terpendek antara tulang dan tulang dada). Sebuah Indeks Haller lebih besar dari 3,25 adalah umumnya dianggap parah, sementara dada normal memiliki indeks 2,5. Tes cardiopulmonary digunakan untuk menentukan kapasitas paru-paru dan untuk memeriksa murmur jantung.

ü  Bedah

Bedah koreksi telah ditunjukkan untuk memperbaiki gejala fungsional yang mungkin terjadi dalam kondisi, seperti masalah pernafasan atau murmur jantung, dengan ketentuan bahwa kerusakan permanen belum sudah muncul dari kasus yang sangat parah.

ü  Teknik Ravitch

Teknik Ravitch adalah operasi invasif yang diperkenalkan pada tahun 1949 dan dikembangkan pada tahun 1950 untuk mengatasi kondisi tersebut. Prosedur ini melibatkan membuat sayatan sepanjang tulang rawan dada yang akan dihapus dan sternum terpisah. Sebuah bar kecil yang kemudian dimasukkan di bawah sternum untuk menahannya di posisi yang diinginkan. Bar dibiarkan tertanam sampai tulang rawan tumbuh kembali, biasanya sekitar 6 bulan. Bar ini kemudian dihapus dalam prosedur keluar-pasien sederhana. Teknik Ravitch tidak dilakukan secara sangat invasif. Hal ini sering digunakan dalam pasien yang lebih tua, di mana sternum telah kaku, ketika cacat adalah asimetris, atau ketika prosedur Nuss kurang invasif telah terbukti berhasil. Prosedur ini juga dapat dilakukan untuk pasien dengan tulang belakang melengkung.

ü  prosedur Nuss



-Ray dari seorang yang telah menjalani prosedur Nuss

Perbaikan

Dr Donald Nuss di Rumah Sakit Anak-anak dari The King's Daughters (CHKD) di Norfolk, Virginia , telah mengembangkan teknik yang minimal invasif Prosedur Nuss melibatkan satu atau lebih baja cekung bar ke dada, di bawah sternum. Bar membalik ke posisi cembung sehingga mendorong ke luar pada tulang dada, memperbaiki cacat tersebut. Bar biasanya tetap dalam tubuh selama sekitar dua tahun, walaupun banyak ahli bedah sekarang bergerak ke arah meninggalkan mereka hingga lima tahun. Ketika tulang telah dipadatkan ke tempatnya, bar dihapus melalui operasi rawat jalan .

ü  bel Vacuum

Sebuah alternatif yang relatif baru untuk operasi adalah bel vakum. Ini terdiri dari mangkuk berbentuk perangkat yang cocok “caved-in area”, udara ini kemudian dibuang dengan menggunakan pompa tangan. Kekosongan yang diciptakan menariktulang dada, mengurangi keparahan cacat tersebut.
digunakan setelah pembedahan korektif untuk menghindari pneumonia dan meningkatkan kapasitas dasar paru-paru

ü  Kosmetik dan perawatan ringan

Penampilan kosmetik excavatum pectus dapat diobati dengan pengisi dermal disebut Bio-Alcamid . Namun, karena hal ini tidak berbuat sesuatu untuk mengurangi cacat yang sebenarnya tidak akan mencegah gejala fisiologis yang disebabkan oleh kondisi tersebut.
implan silikon porex telah berhasil digunakan selama bertahun-tahun dengan hasil yang dapat diterima dalam beberapa kasus.Baru-baru ini implan porex telah digunakan yang merupakan bahan yang sama yang digunakan untuk menggantikan tengkorak di operasi otak dan cedera kepala berat

ü  Magnetik mini-mover procedure

The magnetic mini-mover procedure (3MP) adalah teknik yang digunakan untuk mengoreksi excavatum pectus dengan menggunakan dua magnet untuk menyetel kembali sternum dengan sisa dada dan tulang rusuk. Satu magnet dimasukkan 1 cm ke dalam tubuh pasien di bawah akhir sternum, yang lain ditempatkan eksternal ke penjepit dipasang kustom. Kedua magnet menghasilkan sekitar 0,04 tesla (T) untuk memindahkan perlahan ke arah luar tulang dada selama beberapa tahun. Maksimum medan magnet itu dapat diterapkan pada tubuh aman adalah sekitar 4 T, membuat teknik ini aman dari sudut pandang magnetik. [27] teknik utama adalah keuntungan 3MP ini adalah bahwa lebih biaya efektif daripada pendekatan bedah utama seperti Nuss prosedur dan itu sangat kurang sakit pascaoperasi . Salah satu efek negatif dari 3MP adalah inaktivasi perangkat ditanamkan seperti alat pacu jantung buatan . Karena 3MP masih dalam masa percobaan tidak diketahui apakah jangka panjang memakai magnet akan mempengaruhi kulit atau organ vital lainnya.

·        Rehabilitasi

Perhatian untuk pasca operasi manajemen rasa sakit . Pasien dianjurkan untuk bernapas dalam-dalam, dan menerima bantuan dengan gerakan (untuk menghindari mencabut bar). Setelah debit, pasien perlahan-lahan kembali normal, tapi dibatasi, tingkat aktivitasnya. Sebagian besar anak dapat kembali ke sekolah dalam dua sampai tiga minggu, dengan pembatasan latihan selama enam minggu (tidak ada kelas pendidikan fisik, angkat berat, atau atletik).
Bantuan excavatum pectus bar dikeluarkan dengan anestesi umum dua sampai empat tahun setelah insersi, biasanya secara rawat jalan. Dalam banyak kasus, pasien dapat meninggalkan rumah sakit dalam satu atau dua jam setelah pengeluaran bar.

·        Risiko

Risiko yang terkait dengan perbaikan excavatum pectus termasuk orang-orang biasanya terkait dengan administrasi anestesi (seperti reaksi yang merugikan terhadap obat-obatan dan masalah pernapasan), dan risiko yang terkait dengan operasi (seperti pendarahan dan infeksi). excavatum operasi pectus risiko khusus dapat meliputi runtuh paru-paru (pneumotoraks) dan pengulangan dari saluran dada. perpindahan bar kadang-kadang mungkin memerlukan reposisi.

·        Hasil Normal

Pectus perbaikan excavatum, di hampir semua kasus, mengembalikan kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam kegiatan penuh, bahkan kegiatan berat dan atletik. Juga, ada peningkatan yang nyata dalam citra diri pasien.

Model Zane, Pectoinfo.com


·        Morbiditas dan kematian

Menurut Institut Kesehatan Nasional (NIH), hasil yang sangat baik (95-98%) dilaporkan selama waktu tindak lanjut panjang dari 25 tahun mengikuti. Jangka panjang (lebih dari 15 tahun) menunjukkan bahwa prosedur Nuss menyediakan sangat baik dengan hasil dari 5% kekambuhan kurang dari cacat setelah bar dikeluarkan.

·        Alternatif

Kasus ringan dari excavatum pectus dapat menanggapi latihan dan program fisioterapi postur. Banyak pasien dengan bahu bulat dan postur membungkuk telah memperoleh manfaat dari teknik ini, dengan atau tanpa koreksi bedah tambahan. Namun, body-buildingbiasanya mengakibatkan memburuknya penampilan kosmetik karena peningkatan otot-otot dada.

·        Epidemiologi

Excavatum Pectus terjadi dalam 1 diperkirakan di 150-1000 kelahiran, dengan dominasi laki-laki (rasio pria-wanita dari 3:1). Kejadian kondisi di anggota keluarga telah dilaporkan di 35% menjadi 45% dari kasus.

·        Pada hewan

Pectus excavatum juga diketahui terjadi pada hewan, misalnya kucing. Beberapa prosedur yang digunakan untuk mengobati kondisi pada hewan belum digunakan pada manusia, seperti penggunaan cor dengan jahitan melilit tulang dada dan penggunaan internal dan eksternal splints . Teknik ini umumnya digunakan pada hewan dewasa dengan tulang rawan yang fleksibel.


semoga penyakit ini tidak menimpa saya, keluarga-keluarga saya, teman-teman saya, dan semua yang bertakwa kepadamu.





[ Read More ]

.M.D.

Daisypath Anniversary tickers